Jumat, 27 Maret 2009

Puisi-puisi Cinta

Tak Pernah

engkau yang laksana embun
wajah indah selembut kabut
selalu bersinar laksana bintang
yang selalu berpijar dihatiku

kau pernah buatku berarti
isi lembaran hati dengan bahagia
taburkan semerbak harap

namun kini harus kutepikan bayangmu
meski berontak hasrat di jiwa
jiwaku menangis
meski lirih meski terisak

suarakan bagian jiwa
yang mencari diantara debu dan kenangan

meski tertatih
meski merintih
kulanjutkan langkah ini

Jika mencintaimu adalah kesalahan,

Maka aku tak ingin pernah menjadi benar

1000 maaf

Terlupa
akan hangatnya senyummu
akan lembutnya sapamu
akan dirimu yang slalu ada untukku

mungkin aku silau
tertarik tuk rasakan
teduh jiwa lainnya
senyum indah lainnya
sekejap nyaman tanpamu

namun semakin jauh
aku semakin terjaga
takkan ada yang sepertimu
tak ada yang setulusmu
kumerindu

mungkin aku salah
mungkin aku gila
dan pasti bukan yang pertama
tapi pasti maafmu selalu ada
bagai 1000 kesempatan dihari lalu

Tanyakan Pada Gerimis

Pelangi bertanya padaku
Apa warnamu, hujan?
Bukankah air itu tak berwarna
Bening, sebening hatiku
Bisakah kau lihat cintaku?

Dan pelangi kembali bertanya
Kenapa kau selalu menghindari aku, hujan?
Bukankah bila aku masih di sini,
kau tak kan datang
Jadi kenapa kau bertanya?

Lagi-lagi pelangi bertanya
Kapan kita bisa saling beriringan?
Bukankah seharusnya kau tahu jawabnya
Kita tak mungkin bersama
Sudahlah berhentilah bertanya!

Sebab kalau kau masih ragu
Tanyakan saja pada gerimis
Karena dialah yang terdekat denganmu

Kamu

Ketika kembali dijajah pesonamu,
Masa lalu tak lebih dari cerita.
Air mata maafmu adalah rintik candu yg mengalir membius rasa.
Mengganti sakit, keringkan luka.

Ketika bosanmu kembali hadir,
Sengaja atau tidak, kau sibak smua trik sesalmu.
Tancapkan luka baru tepat ditempat yg lama.
Lalu asal, kau minta aku lupakan mu….

Hampa adalah kado abadi yang kau beri,
Yg slalu menyapaku setiap pagi,
Dan temaniku habiskan hari.

Tapi sungguh, aku tak bisa mengganti rasa ini,
dengan kebencian ataupun dendam.
Karna sungguh, kau mengikat mati akalku
dengan pengertian akan rumitnya kenyataan.

Bahagia

Demi waktu kunanti
Demi waktu kuharap
Hadirnya kebahagiaanku
Seperti yang kumimpikan

Oh…Bahagia
Penantianku takkan pernah sirna
Karena kuharap kebahagiaanku
Hadir dalam kebahagiaanku

Kini bahagia ku tlah hadir
Semenjak kau hadir dihidupku
Smoga waktu yang kunanti
Takkan pernah berujung dilekang waktu

You

Lalu dimanakah kepercayaan yang telah kuberikan
meskipun tidak cukup untuk membuatmu percaya
seperti kemarin petang
selagi kita sibuk membenahi rumah abu-abu dan dalamnya
penuh sampah dan debu
ada yang terlupa bahwasanya catatan yang pernah kita buat
Dengan tangan gemetaran telah hilang
Entah dimana?

Kita memang tak pandai menyimpan sesuatu
Apalagi menghapalnya?

Lalu dimanakah kepercayaan yang telah kuberikan
Kalaupun pada akhirnya menelanjangi tubuh ditengah garis-garis
Gerimis
Telaga dimatamu tak lagi mampu biaskan kerinduan
Tak usah digetuni
:barang kali itulah nasib

Yang menghantarku kearah ruang dinding tanpa batas
menuju beranda
:dendamku telah jadi batu berbaur sepi
terjerat jaring laba-laba

Lalu dimanakah kepercayaan yang telah kuberikan
Ketika kita setubuhi malam dengan mimpi-mimpi perawan
diatas kasur bernama

Aku Tak Meyalahkan Cinta

kenapa masih mengharapmu…
mengapa masih mengingatmu
bodoh…

setelah semua sakit
setelah semua dusta
yang sulit terhapus oleh waktu

Aku tak menyalahkan cinta
karena cinta tak pernah berdusta

kaulah yang berdusta
dan buat seolah cinta yang bersalah
dan hempaskan aku terpuruk disisi terdalam

kau isi separuh hatiku dengan cinta
dan separuh lainnya dengan rindu
kemudian kau rubah semua jadi benci

Aku tak menyalahkan cinta
karena cinta tak pernah berdusta

meski kini aku tak ingin bersanding dengan cinta lagi
tak ingin hadir orang lain lagi
namun aku tetap manusia
yang masih punya rasa

Karam

Terbangun linglung,
Ku dapati cinta berbuah kebencian,
Dipenuhi ratusan ribu nanar,
Akupun tenggelam dlm kesangsian akan hari depan.

Dalam kalap jiwa yg kau jebak,
Ku tata luka dan berdiri patahkan rasa,
Kenakan busana baru rajutan dendam,
Dan penuhi tangki-tangki doa dengan kutukan.

Tak ku lihat warna selain buram,
Setumpuk nilaipun sirnah di benam nafsu,
Sungguh, aku tertawan & karam,
Dalam lubang sempit bernama kekecewaan….

Empat Kawan

Kami empat mata angin bumi
Berlayar kita dilembah suka duka
Menghirup cerita lagu pedih hati
Meniup tiap sengsara jiwa

Aku,kamu,kamu,dan kamu
Kita seperti pasir isap dalam satu tarikan tali.
Kita adalah warna pelangi yang tak terhapus mentari.
Kita bagai kumpulan anjing liar pemangsa pagi.

Tuhan,
Aku harap tiada akhir yamg tak akan ada
Seperti salju kutub yang selalu menemani bumi.
Seperti ikan laut yang tak kekurangan garam dunia.
Aku dan kita kupastikan tiada akhir nanti.

Padamu

Aku menunggumu : rindu-rindu yang menggantung sepanjanghari
yang bangkit dari makam purbaku
kemudian larut diperbatasan antara kabut bukit
dan menjelma dibalik rumpun bambu betung
ada nyanyian kasmaran berdenting dawai
:resah

Aku menggenggam bara selepas magrib
Cinta meludahiku dengan hujan abu-abu

Aku pernah luruh
Dibawah sebatang pohon penuh duri
Yang pucuknya berhasrat merombengi matahari
Cabang dan rantingnya sibuk mencakari langit-langit
Akarnya seperti bandul jam
:melafalkan mantra dendam
Kupu-kupu lupa metamorfosis
sayapnya terjerat jaring laba-laba

Sebait puisi lepas dengan huruf-huruf penuh daki
Rindu-rindu yang menempel retak
Laba-laba merah bata bertapa
Dibalik wuwungan

Kemana perginya harap yang ditindih kecemasan
mensetubuhi resah

akupun pernah sembunyi dari kegelisahan rembulan
Yang merangkai bunga api
menuliskan syair api

maka mimpi purbaku pecah
:sakit !!!

Aku menunggumu : rindu-rindu yang tumpah dilantai
menciptakan genagan-genangan air mata

sebuah pelangi menempel didahi para pengembara
warnanya terlihat pudar
Impian pecah..!!

Pilihkan aku satu warna apa saja?
Taruh diatas nampan dengan sisa-sisa kerinduan yang masih ada
Itupun jika kau masih punya!

Biarkan aku melayang-layang lagi
Diantara kawat jemuran
Jinakan angin liar itu
Tahan bayang itu barang sebentar saja
Tepat sejengkal dihadapanku
Kuminta kantung-kantung nasib
Yang sejak kemarin terendam dilautan

Egoku berlagak tuli
Barang kali seperti seekor lalat tersesat diatas tahi kerbau
Aku tak ingat lagi berapa musim pergi
Kemana si penggembala membawa puisi-puisi cintanya
Kenapa setiap percintaan mesti melahirkan rindu
Yang mesti hancur
Sebelum Fajar Datang
Aduh…!

Jangan coba tanyakan padaku tentang kejujuran cinta
Menerkanya saja aku tak mampu

Aku ingin lumut untuk melulurkan tubuh
Dengan segenap wewangian turun ke dahi
Bercinta
Segila-gilanya
Sehancur-hancurnya
Hingga matahari tinggal semangkuk bakso
yang bisa kuhirup hingga kerongkongan
Seperti air liur mengalir

Cinta tidak datang seperti air kali ciliwung
Pungguk tenggelam dipanci rembulan
Kecuali mimpi berkarat

Aku hampir tak pernah menantinya
Walau musim yang aku tunggu akan habis
Jelanglah diujung muara kali
Atau pada bantarannya
Mungkin angin akan bersiul-siul
Hujan akan tersenyum
Bebatuan buta

Jari-jari waktu
Menepuk-nepuk dada

Dan ketika waktu pinjamkan catatan
Pada setiap karmanya
Dan di setiap titik embun yang jatuh

Sebab cinta tak perlu ditunggu
Disepanjang tepian muara
Kecuali asa berkarat
Dan sepi membatu

Terpuruk

Tak kunikmati lagi berjalan dalam putaran bumi
Runtuh menara harapan tergunjang kata dusta
Terkoyak jala-jala pelindung dan penjaga nurani
Remuk tubuh ini dalam dekapan duka lara

Kekasihku pujaan kerinduan hati ini
Bibirmu telah menikam hati penjagamu
Sentuhan lidahmu mematikan tiap rangsangan rinduku
Wangi tubuhmu adalah nyanyian pengantar racun hati

Aku terpuruk dalam tawa dunia tentang cinta
Aku tergores oleh air dusta yang kau liurkan dari mulut
Aku kalah setelah mendengar kau tertawa
Aku hanya manusia rendah,kuterima semua luka dan sakit

Terlanjur Cinta

Disini…
hangatnya mentari tak lagi terasa…
tapi semua tau, bukan karna mentari lelah berpijar…

Dan disini…
meski tak ada yang tau…
ada hati yang perlahan mati karna asa yang mulai pupus…

Dan disini, dalam diam ini…
setiap saat aku masih memikirkanmu…
aku masih sangat menyayangimu…

Cermin

Aku muak menatap tiap wajah-wajah manusia
Merapikan tiap noda prasangka dalam kecantikan
Bersolek menyembunyikan keburukkan jiwa
Kemudian menghiasnya dengan balutan kebohongan

Kau maanusia yang tak percaya akan fakta kehidupan
Kau sisirkan mahkota kepala dengan keangkuhan rasa
Bayangan cahayamu memantulkan tiap kesombongan
Mengelapkan mata hati dengan harum tipu daya

Bila aku adalah makluk yang memiliki nyawa
Akan kujamah palung kesadaran nurani dan cara fikir
Menamparmu dengan kenyataan hidup yang ada
Menyinarinya dengan kerendahan hati dan rasa syukur

Akan kukatakan kepadamu manusia……,
Takkan pernah ada satu maklukpun yang memiliki bayangan sempurna
Belajarlah untuk menerima apa yang terjadi dalam dirimu sendiri
Sebab yang akan menjadi persoalan bukanlah apa yang terjadi pada dirimu,
Tetapi apa yang terjadi didalam dirimu sendiri

MAAF

Saat jiwa ini sekembali dari neraka
Melewati pertarungan yang menguras gairah
Menjilat tiap babak dalam drama adu raga
Merasakan keletihan memanggul beban kesalahan

Saat hati ini ingin berteriak keras atas kekalahan
Menggakui semua keburukan dari jiwa
Melontarkan tiap kesombongan dan kebodohan
Mengucapkan rasa penyesalan yang melukai cinta

Akan kusampaikan padamu cinta
Walau kau menusukku dengan kata-kata hina
membunuhku dengan tamparan amarah jiwa
Aku terima semua dengan lapang dada

Derita Kita

perjalanan waktu tlah terlampaui antara asa dan nestapa
aku…kamu…terseret arus beku dalam keheningan cinta
satu kata berujung kenangan.
satu rasa berakar keindahan.

Tuhan menuntun jalanku diatas takdirmu.
menentukan hal terindah yang terukir denganmu.
maka apakah lagi yang membuatmu lelah bertahan?.
aku melangkah disisimu untuk bersama.
melawan tingginya tembok restu mereka…
dengarkan senada cinta dari dalam hatimu,masih inginkah kau menggapaimu?.
masih mampukah kau menggenggam hatiku?.
masih mampukah kau lalui semua suka dan suka bersamaku?

kau jawab pintaku dengan kepehitan itu.
kelelahanmu untuk bertahan.
keletihanmu menjaga aku…

tapi…inilah aku…
tetap berjalan mengiringimu dalam temaram gubuk cinta kita,
yang terhembus badai,.
dan terhunus kedinginan bathin kita.

Kaw tat pantas Dikenang

Buat apa kaw di kenang…
Kaw Bukan Bintang
Bukan juga Bulan
Yg sinarnya terang
Menerangi malam..

Buad Apa Kaw Dikenang…
Kaw Bukan Mutiara
Bukan Juga Permata
Yg Sinar nya berkilawan…

Buad Apa Kaw Dikenang…
Kaw Bukan Matahari
Bukan Juga Pelangi
Yg sinar nya Terangi Hidup Qu..

Buat Apa Kaw Di Kenang..
Kkaw Hanya Bunga Mawar
Yg melukai diriqu
Dgn durimu Yg tajam…

Ajari Aku

Ajari aq mencintaimu
dengan kata yang tak sempat kubaca
dengan nada tanpa irama
dendan warna tanpa rona
dengan lagu yang mulai membiru
atau…………

ajari aq
berjalan tanpa kaki
melihat tanpa mata
mendengar tanpa telinga
aga kubisa mengerti
agar kubisa memahami
arti penantianku slama ini
arti perjalananku mencari cinta suci
DENGANMU
atau
TANPAMU


Dengan puisi....

Dengan puisi aku bernyanyi sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta berbatas cakrawala

Dengan puisi aku mengenang keabadian yang akan datang
Dengan puisi aku menangis jarum waktu bila kejar mengiri

Dengan puisi aku memutih nafas jalan yang busuk
Dengan puisi aku berdoa perkenankanlah kiranya

Laksmi

Laksmi wajahmu masih kuingat
Serindai suaramu terus saja terngiang
Lamun sangkala terus menjauhkanmu
Dari diriku…

(Walau) sabak terus ku berjalan
Sepanjang makadam penantian
Merangkai harapan, menjadi
Sebentuk sani kenyataan

Laksmi wajahmu takkan hilang
Lamun sangkala makin jauh membentang
Serindai suaramu s’lalu berdendang
Di tengah sunyi dan keramaian

Tahun ke 3

Ini adalah tahun ketiga kita bersama
Menanti berlabuhnya asa di satu biduk cinta terindah
Terombang ambing di tengah lautan luas nan ganas
Berteman satu dayung dan satu tekad

Untungnya…
Perahu ini tetap kokoh seperti mula
Meski ombak tak henti menerjang
Meski pasang sering menenggelamkan harapan
Engkau tetap percaya, engkau tetap mengerti
Engkau tetap menanti
Tak ingin kembali, tak ingin berhenti
Engkau terus ingin bersamaku hingga ke tepi
Di pelabuhan terindah
Bersama cinta dan rindu yang kita punya
Tanpa memandang apa, siapa, tapi bagaimana

Ini adalah tahun ketiga kita bersama
Penantian tanpa letih, kesabaran diuji
Di saat satu persatu cinta dua insan biasanya t’lah mati
Engkau tetap disini, tak sedikitpun isyaratkan letih

Percayalah…
Ketulusanmu takkan pernah terganti
Keyakinan dan harapanmu kan terwujud abadi

Sebab kita berjanji bukan sekedar bermimpi

dikutip dari berbagai macam sumber